Kurikulum Cinta
Oleh: Amri Ikhsan
Tuhan telah menciptakan manusia dengan postur dan struktur tubuh yang sempurna (ahsan taqwim). Manusia juga dibekali Tuhan berbagai daya dan potensi bawaan yang disebut fitrah. Salah satu fitrah itu adalah cinta, bertoleransi, berkasih sayang, yaitu perasaan atau keadaan yang mendorong seseorang untuk menyayangi, mengasihi atau menghargai orang lain (KKBI).
Cinta dalam pembelajaran bagi guru adalah dorongan untuk membuat yang terbaik untuk peserta didiknya.
Perasaan ini dianjur dibawa dan diimplementasi guru dalam ruang kelas, agar proses pembelajaran terjadi dengan suasana penuh rasa cinta, berkasih sayang dalam berinteraksi dan penuh penghormatan dalam menyampaikan materi pembelajaran.
Selain guru, satuan pendidikan harus juga menciptakan dan menumbuhkan perasaan ini dalam setiap program yang dibuat agar suasana keakraban dan toleransi muncul dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan.
Akhirnya dampak dari perasaan ini, siswa sebagai subjek pembelajaran merasa nyaman, bahagia dan antusias dalam pembelajaran dan menghasilkan outcome siswa yang berkarakter positif, berakhlak mulia yang merupakan harapan dari semua pihak: satuan pendidikan, pemerintah, orang tua dan masyarakat.
Ini bisa jadi menjadi tujuan dari inisiatif Kementerian Agama dalam memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta. Kurikulum Cinta mengambil posisi sebagai jiwa (soul) dari seluruh penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran dalam implementasi Kurikulum Nasional.
Kurikulum cinta merupakan kurikulum yang menitikberatkan pada pengembangan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, dan perhatian mendalam terhadap aspek sosial dan emosional dalam pendidikan (Kemenag).
”Kegagalan” pendidikan itu dapat disebabkan oleh terfokusnya perhatian semua pihak kepda konsepnya bukan pada persiapan guru dalam menjalankan kurikulum itu. Karena itu, pemahaman guru tentang kurikulum ini sangat penting.
Dalam berbagai referensi banyak ditemukan berbagai tantangan dalam mewujudkan pendidikan berkualitas. Dan disimpulkan, itu bukan terletak pada hebatnya kurikulum, lengkapnya media pembelajaran, mewahnya gedung tapi terletak pada personil yang akan menjalankan kurikulum itu, orang yang berinteraksi dengan siswa, yaitu guru. ‘Beliau’ inilah yang akan menentukan jalan atau tidak sebuah kurikulum.
Apapun konsep dan landasan kurikulum, guru adalah kuncinya. Pertama, jika kita memulai kegiatan pembelajaran, hendaknya guru menghadirkan niat beribadah kepada Allah, memulainya dengan membaca basmalah, mendoakan siswa-siswa kita agar menjadi anak saleh(ah) dan mendapatkan ilmu yang manfaat, dan menyayangi mereka sebagaimana kita mau disayangi oleh orang lain.
Jika kita mendidtk dengan cara seperti itu, berarti kita telah mulai melaksanakan kurikulum cinta.
Kemampuan rnengelola pembelajaran merupakan bagian integral dari Kurikulum Cinta ini yang harus dimiliki setiap guru. Guru merupakan unsur yang sangat vital dalam pengelolaan proses pembelajaran.
Guru dituntut mengembangkan kemampuan sosial dan emosional siswa secara maksimal, karena tidak mungkin Kurikulum cinta akan berdampak tanpa didukung oleh kemampuan pengelolaan kelas yamg cerdas dari guru.
Oleh karena itu, setiap guru harus mengenal, memahami, dan meyakini pentingnya perasaan cinta dalam membelajarkan para siswanya.
Dalam mengimplementasikan Kurikulum cinta ini, Robert, dkk., menjelaskan bahwa guru yang paling mampuni menjalankan kurikulum ini adalah guru yang menguasai bahan ajar, mampu mengembangkan proses pembelajaran sesuai dengan bahan yang diajarkan, dan memahami cara berfikir siswa terhadap bahan ajar yang mereka terima, dapat melakukan evaluasi, dan mampu mengidentifikasi berbagai miskonsepsi para siswa terhadap pembelajaran.
Harus diakui bahwa dalam implementasi Kurikulum Cinta ini membutuhkan dukungan Classroom Climate, yaitu kualitas interaksi antara siswa clengan guru, harapan guru terhadap para siswa, penghargaan guru terhadap siswa (Dede Rosyada, 2017: 228).
Classroom climate merujuk pada atmosfer fisik, emosional, dan sosial di dalam kelas tempat pembelajaran terjadi. Ini melibatkan berbagai faktor yang memengaruhi pengalaman belajar siswa, seperti hubungan antara guru dan siswa, interaksi di antara sesama siswa, serta cara pembelajaran diselenggarakan (Masbur, 2020).
Disamping classroom climate, Kurikulum Cinta ini perlu didukung dengan social climate merujuk pada kondisi dan atmosfer hubungan sosial yang lebih luas di suatu komunitas atau kelompok, yang bisa mencakup sekolah, masyarakat, tempat kerja, atau bahkan dalam konteks global.
Iklim sosial berhubungan dengan cara individu berinteraksi dalam kelompok sosial dan sejauh mana kelompok tersebut mendukung norma-norma sosial yang positif (Cece-Murcia).
Classroom Climate dan Social Climate keduanya merujuk pada suasana atau situasi yang terwuhjud di dalam proses pembelajaran, baik itu di ruang kelas maupun dalam konteks sosial yang lebih luas.
Suasana ini akan mempengaruhi guru dan siswa dalam berinteraksi, belajar, dan tumbuh pembelajaran tersebut.
Classroom Climate dan social climate berhubungan dengan pola: 1) hubungan guru-siswa, sejauh mana guru memberikan dukungan emosional, perhatian, dan rasa hormat terhadap siswa.
Feedback yang diberikan guru bersifat motivatif dan menunjukkan empati dan akan menciptakan iklim kelas yang positif; 2) interaksi sosial, bagaimana siswa berinteraksi dengan teman-teman mereka dalam kegiatan pembelajaran, kerja kelompok, atau diskusi kelas.
Kemudian, 3) suasana fisik kelas, desain ruang kelas yang nyaman, pencahayaan yang cukup, serta media pembelajaran yang memadai dapat menumbuhkan suasana kelas yang harmonis; 4) keamanan psikologis: tidak ada beban bagi siswa untuk mengekspresikan diri mereka, bertanya, atau mengemukakan pendapat tanpa takut disalahkan; 5) kerja sama dan kolaborasi, kekompakan siswa untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran (Masbur, 2020).
Disambut positif iniasiatif Kementerian Agama RI dalam menggagas Kurikulum Cinta, sebuah ijtihad pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa sejak usia dini.
Ini dalam rangka dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan madrasah dan mengedepankan nilai-nilai cinta dalam pendidikan, baik cinta terhadap ilmu, sesama, agama, budaya, dan tanah air.
Kurikulum Cinta ini menekankan empat aspek utama: 1) membangun cinta kepada Tuhan (Hablum Minallah), di mana anak-anak sejak dini sudah terbiasa memperkuat hubungannya dengan Allah; 2) membangun cinta kepada sesama manusia, apa pun agamanya. Anak-anak harus dibiasakan dengan keberagaman, membangun Hablum Minannas yang kuat; 3) membentuk kepedulian terhadap lingkungan (Hablum Bi’ah).
Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini harus ditangani secara terstruktur dan sistematis. Anak-anak kita harus disadarkan akan pentingnya menjaga bumi; 4) kecintaan terhadap bangsa (Hubbul Wathan).
Banyak anak-anak kita yang setelah belajar di luar negeri, justru lebih merasa menjadi orang luar dibandingkan bagian dari bangsanya sendiri. Kita ingin menginsersi agar anak-anak kita tetap berpegang teguh pada akar budayanya (Kemenag).
Implementasi Kurikulum Cinta khususnya di Madrasah dapat menjawab persoalan pendidikan khususnya pembelajaran di era post truth dan diharapkan membawa perubahan nyata dalam kehidupan sosial.
Kalau semua berkolaborasi, Kurikulum Cinta ini akan melahirkan generasi yang lebih amanah, toleran, dan penuh kasih sayang dan akan mewujudkan masyarakat yang harmonis dalam perbedaan.
Akhirnya, implementasi Kurikulum Cinta sangat tergantung pada rasa cinta yang dimiliki guru. Kita tunggu implementasinya. Wallahu a'lam bish-shawab!
*) Penulis adalah Pendamping Satuan Pendidikan
Untuk Wilayah Kota Jambi dan Sekitarnya
Memuat tanggal...