Selamat Datang di Website Resmi MAN 1 Batang Hari # MAN 1 BATANG HARI MENUJU ZONA INTEGRITAS # SELAMAT DATANG DI MAN 1 BATANG HARI
Diposting Pada: Kamis, 20 Agustus 2026

Matamuda MAN 1 Batanghari Kenalkan Moderasi Beragama dan Kearifan Lokal dengan Bahasa Sederhana

Matamuda MAN 1 Batanghari Kenalkan Moderasi Beragama dan Kearifan Lokal dengan Bahasa Sederhana

Kemenag - MAN 1 Batang Hari - Kegiatan Masa Ta'aruf Murid Madrasah (Matamuda) di MAN 1 Batang Hari diisi dengan materi tentang moderasi beragama dan kearifan lokal. Materi tersebut bertujuan menanamkan nilai toleransi, saling menghargai, serta kecintaan terhadap budaya daerah kepada peserta didik baru sejak awal memasuki lingkungan madrasah.

Pada sesi awal atau apersepsi, pemateri Prishidayati,S.pPd.I,M.Pd., menggali pemahaman peserta didik dengan mengajukan sejumlah pertanyaan terkait moderasi beragama. Namun, sebagian besar peserta didik baru ternyata masih asing dengan istilah tersebut. Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih sederhana dan membumi agar materi mudah dipahami.



Menyikapi hal tersebut, pemateri kemudian menyesuaikan gaya penyampaian dengan menggunakan bahasa yang lebih ringan, sederhana, dan santai. Langkah ini dilakukan agar peserta didik baru tidak merasa terbebani dan dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman sejak hari pertama berada di madrasah.

Dalam penyampaiannya, moderasi beragama dijelaskan sebagai sikap tidak ekstrem, tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain, serta mau menghargai perbedaan. Sementara itu, kearifan lokal dikaitkan dengan berbagai kebiasaan baik yang hidup di tengah masyarakat, seperti gotong royong, musyawarah, serta menjaga kerukunan antarumat beragama.

Secara implementatif, moderasi beragama dan kearifan lokal memiliki keterkaitan yang erat karena sama-sama mengajarkan pentingnya hidup bersama dalam keberagaman.

Pertama, keduanya mengajarkan sikap saling menghargai. Moderasi beragama mengajarkan seseorang untuk tidak memaksakan keyakinannya kepada orang lain. Sementara itu, kearifan lokal mengajarkan masyarakat untuk hidup rukun dengan tetangga meskipun berbeda suku, agama, dan latar belakang. Keduanya bermuara pada terciptanya kehidupan yang damai.



Kedua, keduanya mendorong seseorang untuk menghindari sikap ekstrem dan egois. Moderasi beragama mengajarkan sikap tidak berlebihan dan tidak merasa paling benar sendiri. Nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong dan musyawarah juga mengajarkan pentingnya mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama.

Ketiga, moderasi beragama dan kearifan lokal dapat saling menguatkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai gotong royong, musyawarah, dan kerukunan yang telah tumbuh di masyarakat dapat menjadi sarana untuk mengamalkan moderasi beragama. Sebaliknya, sikap moderat dalam beragama akan membantu masyarakat menjaga dan melestarikan berbagai tradisi baik yang berkembang di daerah.

Pemateri kemudian mengibaratkan moderasi beragama dan kearifan lokal seperti dua sahabat. Kearifan lokal menjadi “rumah” atau budaya tempat seseorang hidup dan tumbuh, sedangkan moderasi beragama menjadi “cara” seseorang menjalankan kehidupan beragama di dalam rumah tersebut dengan tetap menjaga hubungan baik dengan lingkungan dan tetangga.

Jika keduanya berjalan bersama, lingkungan madrasah, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara akan tetap rukun meskipun diwarnai berbagai perbedaan.

Para peserta didik tampak antusias mengikuti materi setelah pemateri menggunakan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.



Secara terpisah, Kepala MAN 1 Batang Hari mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pengenalan nilai moderasi beragama dan kearifan lokal sejak awal sangat penting untuk membangun fondasi karakter peserta didik yang kuat sekaligus menumbuhkan wawasan kebangsaan.

“Kegiatan ini penting sebagai langkah awal dalam membentuk karakter peserta didik. Mereka perlu memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi bagian dari kehidupan yang harus disikapi dengan saling menghargai,” ujarnya.

Kegiatan Matamuda di MAN 1 Batang Hari berlangsung selama tiga hari dan dijadwalkan ditutup pada hari ketiga pukul 14.00 WIB. Pihak madrasah berharap materi yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan dekat dengan kehidupan peserta didik dapat dipahami serta diterapkan dalam keseharian.

Dengan demikian, Matamuda tidak hanya menjadi sarana pengenalan lingkungan madrasah, tetapi juga menjadi momentum awal dalam membangun budaya madrasah yang damai, toleran, dan berbudaya.

Penulis : Pris
Editor : Yofi
Humas Mansa Batang Hari

 


47x
Dibaca
.

Berita Lainnya:

  1. Acara Pembukaan Masa Ta'aruf Siswa MAN 1 Batang Hari: Awal Perjalanan Pendidikan 753x dibaca
  2. Pelantikan Kepala Urusan Tata Usaha MAN 1 Batang Hari, M. Chusaini, S.E. Resmi Mengemban Amanah Baru 117x dibaca
  3. Safari Jumat MAN 1 Batanghari di Masjid Nurul Iman: Mempersiapkan Diri Sambut Ramadhan 203x dibaca
  4. Siswa MAN 1 Batanghari Mengubah Sampah Plastik menjadi Ecobrick, Mewujudkan Gaya Hidup Berkelanjutan 152x dibaca
  5. Sinergi untuk Pelayanan Prima, Kaur TU MAN 1 Batang Hari Gelar Rapat Koordinasi Tata Usaha 113x dibaca

Go Back To Home

Jadwal Sholat

Untuk Wilayah Kab. Batang Hari dan Sekitarnya

Memuat tanggal...

Imsak--:--
Subuh--:--
Terbit--:--
Dhuha--:--
Dzuhur--:--
Ashar--:--
Maghrib--:--
Isya--:--

Peta Lokasi MAN 1 Batang Hari

Mars Madrasah