
Batang Hari-Suasana pembelajaran di kelas XI C MAN 1 Batang Hari pada 1 April 2026 tampak berbeda dari biasanya. Di bawah bimbingan Samini, S.Pd., guru mata pelajaran Sosiologi, materi tentang pentingnya membangun harmoni sosial dikemas secara interaktif dan bermakna bagi 22 siswa. Pendekatan yang digunakan adalah experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman, sehingga pemahaman siswa mengenai harmoni sosial menjadi lebih mendalam dan aplikatif.

Pada awal pelajaran, Samini tidak langsung memberikan penjelasan satu arah. Ia mengawali dengan diskusi kelompok kecil yang melibatkan siswa dari berbagai latar belakang karakter dan pemikiran. Diskusi ini bertujuan mempertemukan perbedaan serta membangun komunikasi efektif di antara siswa. Salah satu siswa, Soka, yang bertugas sebagai koordinator kelompok, mengungkapkan bahwa awalnya terjadi perdebatan dan saling menyalahkan. Namun, setelah dibimbing untuk berkomunikasi dengan empati, para siswa menyadari bahwa perbedaan justru dapat menjadi kekuatan yang saling melengkapi.
Samini menegaskan bahwa harmoni sosial bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan mengelola perbedaan tersebut agar menjadi kekuatan bersama. Ia juga menyoroti pentingnya membekali siswa dengan keterampilan sosial di era digital, di mana mereka mudah terpapar ujaran kebencian dan konflik. "Materi ini saya rancang agar mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memiliki keterampilan sosial untuk menjadi agen perdamaian di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Mereka harus sadar dulu, baru bertindak," jelas Samini saat ditemui di ruang guru.

Puncak kegiatan pembelajaran ditandai dengan sesi "Harmoni Talk". Dalam sesi ini, seluruh siswa dibagi menjadi empat kelompok yang mewakili keragaman latar belakang sosial, seperti status ekonomi, gaya belajar, minat, dan asal daerah. Setiap kelompok mendapat tantangan untuk membuat proyek mikro berupa deklarasi kelas dan mural mini di papan kelas dengan tema "XI C Damai, Indonesia Kuat". Kegiatan tersebut bertujuan menanamkan nilai toleransi dan gotong royong secara nyata melalui aksi bersama.
Kepala MAN 1 Batang Hari memberikan apresiasi atas metode pembelajaran yang diterapkan Samini. Ia menilai pendekatan ini sejalan dengan profil pelajar Pancasila, di mana siswa tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. "Ibu Samini berhasil mengemas materi Sosiologi yang berat menjadi sesuatu yang membumi. Anak-anak tidak hanya menjadi pintar secara kognitif, tapi juga matang secara emosional dan sosial," tuturnya.

Kegiatan yang berlangsung selama dua jam pelajaran ini diakhiri dengan sesi refleksi bersama. Seluruh siswa dan guru membentuk lingkaran, lalu mengucapkan komitmen bersama untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan yang memperindah kehidupan. Dengan metode pembelajaran inovatif ini, diharapkan semangat harmoni sosial tidak hanya tumbuh di dalam kelas, tetapi juga menyebar ke seluruh lingkungan madrasah. Hal ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang toleran, damai, serta penuh semangat gotong royong di MAN 1 Batang Hari.
Penulis : Samini
Editor : Yofi
Humas Mansa Batang Hari
|
40x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Batang Hari dan Sekitarnya
Memuat tanggal...